kepadamu,
pemilik hati yang tak sempat termiliki;
yang hadir sebagai bagian permainan takdir
aku menulis ini untukmu
bukan karena rindu

mungkin kau lupa
tapi aku ingat
saat mata kita beradu dan tanganmu menjabat tanganku
detik ketika semesta mempertemukan kita

detik ketika kupupuskan
angan untuk sekadar berteman denganmu
karena sedari awal aku tahu
yang kuinginkan darimu
lebih dari itu

kubunuh cinta yang kusimpan dalam bisu
karena tak ada yang bisa kutawarkan padamu
tidak, selain cinta itu

lalu kusembunyikan perasaan di balik topeng persahabatan
berbahagia dengan menjadi yang lekat di hatimu
meski bukan sebagai kekasih

aku tahu, kau sebenarnya tahu
namun kau memilih seolah tak tahu
karena apa yang kupendam
tak pernah kauinginkan

maka jika kukatakan
aku telah mengakhiri sesuatu yang belum kumulai
itu adalah engkau

maka jika kukatakan
aku telah kehilangan sesuatu yang belum tergenggam
itu adalah engkau

maka jika boleh kukatakan
inilah puncak segala perih
aku menyentuhmu, bukan memeluk

maka jika boleh kukatakan
inilah hancur yang paling lebur
aku tetap berdiam di sampingmu
membunuh perlahan cinta itu

pergi darimu bukanlah pilihanku
dan tak pernah kuinginkan
tidak, hingga kau yang memilih dan menginginkannya:
pergi dariku

lagi, aku menulis tentangmu bukan karena rindu
aku telah berdamai untuk bahagiamu
lalu kusisir jalan di sisimu
mencari bahagiaku

(ditulis atas permintaan @adejulizar)

Category: mumble, poems  2 Comments

If I don’t wanna fight for you no more, will I lose you?
Or will you fight for me back?

Nah! It’s nothing.
I just wondering.

Category: mumble  Leave a Comment

aku menulis pendek-pendek
dengan napas panjang-panjang

napas yang kupinjam dari embusan napas;
yang kucuri dari kecupan pendek-pendekmu

aku menulis sajak pendek-pendek
baik-baik di pikiran

– sambil menciummu

sebab jika kutunda, aku takut lupa
tak mempuisikan kecupan kita

08
Jan

kautahu, aku tak pandai geografi
tapi aku bisa membiasakan diri

untuk memastikan di sudut bawah langit manakah kau berada kini
menyapamu sejam lebih awal sebab di situ matahari lebih dulu terbit

menghirup aroma tubuhmu hanya di udara ingatanku
menapasi hari-hariku hanya dengan wangi itu

aku bisa terbiasa dengan kautak sedekat kerling mata
aku bisa saja, tapi tak akan pernah suka

28
Dec

aku lebih memilih nyeri, dan segala sakit sebabmu,
daripada tak lagi merasai apapun
 
ini bukan pula perkara tentang aku lebih sayang siapa,
diriku sendiri atau dirimu 

sebab, aku tak tahu apa yang harus kulakukan saat kelak hal terbaik dalam hidupku — kamu, hilang
aku tak paham apa yang harus kulakukan saat aku merindukan kebaik-baiksajaan 

ini bukan patah hati, karena kita tak saling pergi
hanya saja, rasa ini, aku tak tahu namanya

Someone asked me: “why you look so sad?”

I said: “nothing, am fine…” and smiled

He replied me: “no, you are definitely not”

I nodded… but (keep) smiled

“I know am not okay, and it’s okay to feel not okay. But don’t force me to cry when I decided to smile eventhough I know am not okay.”

Category: mumble  Leave a Comment

Pada suatu waktu,
aku tiba di tubuhmu sedikit selepas tengah malam

Kukira tidak terlambat,
sebab lampu kamarmu redup pun masih nyala

Kuturunkan setumpuk rindu di pipi kiri-kananmu
Sepasang sepatu nyaman di kaki-kakimu
Lalu sesesap anggur di ranum bibirmu
Bahkan sempat kubersihkan lelah di bahumu

Dan tentu saja, matamu yang kusuka itu
Yang tiba-tiba kaujatuhkan air matamu,
sebab katamu kau terlalu rindu
Kusapu sudut genangnya dengan ujung jemariku

Lalu esoknya; pada sebuah pagi di pelukanmu
:

  • Aku tak mendengar kicau pipit di halaman yang kaubiarkan aku menanaminya dengan bunga-bunga sebab aku suka
  • Aku tak menunggu terbit matahari sembari menghirup sejuk embun di pucuk-pucuk daun
  • Aku kehilangan segala keindahan pagi yang biasanya memukauku

Sebab — kutemukan segala yang lebih dari semua itu,
berdiam di situ; di pelukmu

Dan lama setelah aku terjaga,
ada yang tak kuusik dan kubiarkan saja
Sebab cinta yang tertidur di dadamu,
aku tak yakin akan bangun tepat waktu

aku sekuat tenaga menahan pagi
yang mataharinya terbit dari balik kelopak matamu
dan aku terbangun di hangat kedua lenganmu
dan kita ingin tak punya waktu selain pagi ini

tetapi pagi ini, sungguhlah pagi
yang bahkan jika ia ingin tinggal pun
yang jika pun ia mau selamanya embun
tak akan pernah bisa

maka kusajikan sarapan untukmu
: setangkup tangan yang berdoa
untuk mimpi-mimpi yang kita tahu
ialah nyata sepanjang siang dan senja

sebelum nanti aku kembali pulang
kepada mimpi dan wajahmu yang malam
yang di antara sabit alismu
– terbit rembulan

Category: #kamuku, poems  2 Comments

di suatu senja yang seri wajahnya jingga
sebab sesiangan matahari terlampau garang

singgah hinggaplah ia
di jernih telaga mengecup-kecupkan paruhnya
sedang melega dahaga

lalu, riak-riak air sebab dia kecup
meruap tiba di putih salju sayapku
buncahkan geletar tak terkata di dadaku

aku — sudah jatuh cinta

kepadanya, yang seusai dahaga
terbang pergi begitu saja
sisakan riak di dadaku
yang setenang telaga di hadapku

kelak — ia singgah kembali

tenang tempatku berdiam
kala itu telah akan hilang
dan ia, hanya bisa melepas dahaga
di hatiku yang telaga

selagi belum :

di suatu senja yang matanya basah hujan;
yang pipinya kehilangan jingga merona-rona
aku masih saja menantinya

Category: poems  Leave a Comment

sebab aku mencintaimu…

api:
aku tahu, terbakar ialah resiko yang harus kuambil
dan jikapun harus mengabu, sedikitpun aku tak ragu

air:
biarkan saja aku kuyup sampai letih
sampai napasku menjelma gelembung udara
tenggelamkan aku!

angin:
peluk sajalah aku, hingga tulang-belulang sempurna dingin
kelak pada biru-biru bibirku, beku-kekallah kecupanmu

tanah:
kumakamkan cinta diam-diamku dalam dirimu
kutanamkan dalam-dalam di hatimu


sebab aku mencintaimu…

langit:
aku belajar terbang tanpa sayap
begitu inginnya aku, memberimu sekadar satu pelukan

rembulan:
sesabit lengkung senyummu, purnama bagiku
sedikit cinta darimu, lebih dari cukup

matahari:
aku menjelma embun yang menanti kecupanmu pada pagi
menjadi cakrawala tempat pulangmu kala senja

bintang:
aku tak pernah suka hujan
kau telah cukup jauh untuk kusentuh
aku tak butuh lagi apapun yang meniadakan pandangku padamu