kepadamu,
pemilik hati yang tak sempat termiliki;
yang hadir sebagai bagian permainan takdir
aku menulis ini untukmu
bukan karena rindu
mungkin kau lupa
tapi aku ingat
saat mata kita beradu dan tanganmu menjabat tanganku
detik ketika semesta mempertemukan kita
detik ketika kupupuskan
angan untuk sekadar berteman denganmu
karena sedari awal aku tahu
yang kuinginkan darimu
lebih dari itu
kubunuh cinta yang kusimpan dalam bisu
karena tak ada yang bisa kutawarkan padamu
tidak, selain cinta itu
lalu kusembunyikan perasaan di balik topeng persahabatan
berbahagia dengan menjadi yang lekat di hatimu
meski bukan sebagai kekasih
aku tahu, kau sebenarnya tahu
namun kau memilih seolah tak tahu
karena apa yang kupendam
tak pernah kauinginkan
maka jika kukatakan
aku telah mengakhiri sesuatu yang belum kumulai
itu adalah engkau
maka jika kukatakan
aku telah kehilangan sesuatu yang belum tergenggam
itu adalah engkau
maka jika boleh kukatakan
inilah puncak segala perih
aku menyentuhmu, bukan memeluk
maka jika boleh kukatakan
inilah hancur yang paling lebur
aku tetap berdiam di sampingmu
membunuh perlahan cinta itu
pergi darimu bukanlah pilihanku
dan tak pernah kuinginkan
tidak, hingga kau yang memilih dan menginginkannya:
pergi dariku
lagi, aku menulis tentangmu bukan karena rindu
aku telah berdamai untuk bahagiamu
lalu kusisir jalan di sisimu
mencari bahagiaku
(ditulis atas permintaan @adejulizar)


Recent Comments